Mencopet Tuhan
oleh Sai ELvarizie pada 08 Februari 2011 jam 22:53
Baru kali ini saya mencopet. Tepatnya baru berencana. Tapi niat saya sudah bulat. Saat ini saya telah berada di dalam bis bergelantungan dengan mata yang melirik-lirik lincah. Saya tahu tidak ada pembenaran apapun untuk tiap alasan yang saya berikan atas usaha pencopetan saya ini. Tapi percayalah, saya benar-benar mentok. Sangat kepepet.
Kalau sekedar tidak punya nasi di rumah atau uang untuk jajan anak-anak sekolah, istri saya masih bisa memelas pada warung Bu Haji dan saya masih mungkin meminjam pada kakak saya setidaknya untuk 5.000 rupiah. Beres sudah, meski kadang tidak semudah itu. Masalahnya ini tentang sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Anak saya yang ketiga bakal terancam tidak dapat masuk SD sampai saya bisa melunasi uang pendaftarannya sebesar 325.000 rupiah. Padahal biaya lainnya sudah terpenuhi dan sebagiannya bisa dicicil. Katanya, biaya yang ini harus! Kalau tidak bisa membayar besok, calon murid lain sudah banyak mengantri. Dan saya tidak berani menghancurkan harapan anak saya untuk segera bersekolah apalagi jika saya mengingat betapa girangnya dia saat memamerkan seragam dan tas sekolah pemberian uwaknya.
“Arep mendi, Pak?” itu pertanyaan istri saya saat saya hendak beranjak pagi tadi.
“Jaluk utangan” jawab saya berbohong.
“Karo sapa maning?”
“Kang Usen.”
Saya memang mengada-ada. Hutang terakhir pada Kang Usen belum dibayar, malu saya kalau minta tambahan lagi. Mustahil saya kesana, lebih mustahil kalau jujur padanya kemana saya akan pergi.
****
Sasaran sudah saya dapat. Seorang ibu muda dengan tas besar bergantung pada pundaknya. Setangkup dompet kecil berasal dan kembali ke dalam sana saat kondektur menagih ongkos bis. Sekilas tertangkap lembaran ratusan ribu menyembul menggoda. Saya percaya jutaan setan sudah bergumul di sekitar saya. Lebih banyak dari pada jumlah sujud penuh permohonan yang saya ingat pernah terbuat. Saya berdosa. Ya, dan dosa terbesar saya adalah mati-matian membenarkan bahwa Tuhan Maha Mengetahui dan Maha Memaafkan. Mengetahui alasan mengapa saya sampai mencopet dan memaafkan jika saya nanti bertobat. Akibatnya saya tak merasa terlalu terbebani saat saya melancarkan aksi copet ini. Lagi pula saya sudah berjanji akan bersedekah jika saya dapat rejeki lebih sebagai salah satu cara penebus dosa. Sumpah demi Tuhan!
“Sunyaragi! Yang turun Sunyaragi?” kondektur berkoar. Ini kesempatan! Seorang bapak di bangku samping ibu muda itu bersiap turun. Terburu-buru! Sasaran saya cekatan siap mengisi bangku yang ditinggalkan. Tasnya menyerong berhadapan dengan tubuh saya. Oh, dompet itu sudah pada jarak dan situasi yang tepat untuk berpindah.
“Sebentar, Bu! Saya mau turun,” tukas bapak itu. Terjadilah desakan. Ibu itu khawatir sekali bekas tempat duduk sang bapak akan terisi oleh penumpang lainnya yang juga berdiri. “Maaf saya lewat dulu.”
Pergulatan berakhir. Bapak itu berhasil keluar dari bangku yang segara diduduki ibu muda itu. Bis berhenti, beberapa penumpang ikut turun di Sunyaragi. Saya masih di situ ketika bis kembali mulai melaju dan kegaduhan yang timbul kemudian.
“Copeeet…! Dompet saya dicopet!”
Bis kembali berhenti. Kondektur turun bergegas. Saya dan beberapa penumpang lain juga turut turun. Tapi saya tak ikut-ikutan mengejar dan memukuli bapak yang turun beberapa menit sebelumnya. Saya hanya berlalu menjauh, karena dompet itu ada pada saya.
***
Saya tidak tahu bagaimana cara menebus dosa yang seperti itu. Saya kira bersedekah tak kan pernah cukup untuk lelaki yang babak belur karena salah tuduh itu. Sebagian nasib buruknya terjadi karena perbuatan saya. Sepenuhnya saya akui itu memang kesalahan saya. Pada saat seperti ini saya ingat Tuhan. Ada satu masa saya akan menghiba ampun habis-habisan untuk dosa yang satu ini. Dan khusus untuk bapak itu, satu-satunya doa yang saya panjatkan buatnya adalah bahwa dia tidak memiliki anak seperti saya yang mungkin kecewa karena tak jadi bersekolah karena ketakmampuan biaya. Sebab saya berani bertaruh dengan wajah dan tubuh saya untuk menjadi sama babak belurnya asalkan uang sebesar 325.000 rupiah itu bisa termiliki untuk menebus senyum bahagia anak saya di hari pertama sekolahnya nanti. Saya tahu ini memang keterlaluan. Dan keterlaluan ini juga sebuah dosa. Akibatnya rasa itu terus merasuk dan menggedor-gedor hati saya sepanjang kaki saya melangkah menuju pulang. Sambil terus berpikir pada sebuah dosa lain sebagai penukar kejujuran saat menyerahkan isi dompet ini pada istri saya.
****
Baru sekali ini saya mencopet. Dan mungkin tak kan pernah lagi. Saya kecewa dengan cara Tuhan membalasnya. Istri saya jadi tak henti-hentinya menangis. Saya terbengong kosong. Anak ketiga saya terus meraung-raung menahan luka di wajahnya dan kakinya yang patah akibat tertabrak motor sepulang bermain.
****
Salam kenal Mas Sai!
BalasHapusSaya sedikit tergelitik dengan cerpen yang Anda posting ini. Karena sama persis dengan tulisan yang saya publish di http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/02/08/mencopet-tuhan/ beberapa jam sebelum tampil disini. Saya beranggapan Anda telah melakukan Copy Paste terhadap tulisan saya dengan lupa menuliskan sumber asli dan pengarang aslinya. Dengan komentar ini saya anggap sebagai koreksi atas suber dan penulis asli cerpen ini. Terimakasih