MALEZ PULANG KARNA DAPET NILAI E DI MATA KULIAH,.,.,.,
oleh Sai ELvarizie pada 10 Februari 2011 jam 8:36
Sudah lewat jam 2 siang, ketika GW masuk ke ruangan DIA. Wajah GW lesu. Bercampur bingung juga, dia rasa. gw lalu bercerita perihal masalah yang dihadapi . Oleh bagian TU FAKULTAS gw tidak diperkenankan mengikuti ujian ulangan, karena tidak tercatat sudah melakukan registrasi untuk ujian tersebut. Si mahasiswa itu bilang, ia sudah melakukan registrasi secara online. Bagian akademik bilang, mungkin proses registrasinya belum selesai, sehingga tidak tercatat.
Singkatnya, gw meminta kebijakan. gw meminta pengecualian. Setelah berkonsultasi dengan bagian akademik, akhirnya pengecualian itu tak dapat diberikan. Jadi, ia tetap tidak dapat ikut ujian.
gw tampak tambah lesu. Bermenit-menit gw diam saja di hadapannya. dia coba menghibur gw dengan mengatakan, bahwa gw masih punya satu kali kesempatan : ujian lisan. gw masih terus diam.
dia lalu mulai menanyakan hal-hal sederhana, seputar keluarga gw, dan keseharian gw. Untung gw mau bercerita. Sampai akhirnya dia tahu, bahwa gw rupanya tak berani pulang karena pasti akan mendapatkan murka besar dari ayah lantaran tidak bisa ikut ujian. Mungkin murka yang satu ini akan lebih besar ketimbang murka sebelumnya saat ujian regulernya menghasilkan nilai E. Hmm, rupanya ia memiliki seorang ayah yang keras dan ‘galak’.
dia juga seorang ayah. Anaknya sulung hanya setahun saja lebih muda ketimbang gw. Tapi rasanya, boleh dibilang dia tak pernah memarahi anak-anaknya. Satu-satunya tegurannya yang agak keras adalah jika mereka tak segera beranjak sholat ketika waktu sholat telah tiba. Soal nilai akademik, dia tak merisaukannya. Soal pendidikan di sekolah, keinginannya sederhana saja. dia hanya ingin anak-anaknya terus belajar sampai maut nanti menjemputnya. Belajar apa saja yang bisa membuatnya menjadi lebih bermanfaat bagi semesta.
Tapi lain rumah, lain pula warnanya. dia bisa memahami kegundahan yang tengah dihadapi gw. Kalimat apa yang bisa dia sampaikan kepadanya agar dia kuat dan berani pulang? Kami, dia dan gw , tentu tak bisa terus berlama-lama di ruanganku. Sebentar lagi ada rapat yang perlu kuhadiri. dia berpikir akhirnya dia menemukan kalimat terbaik.
“Semua orang tak luput dari kesalahan. Kamu pulang saja, dan katakan kepada orangtuamu bahwa kamu salah. Tidak melakukan proses registrasi dengan benar. Minta maaf atas kesalahan itu. Sampaikan juga tekadmu untuk mengikuti ujian lisan dengan baik sehingga transkrip nilaimu bersih dari F. Ini no HP saya kalau-kalau orangtuamu ingin membicarakan soal ini dengan saya.”
Singkatnya, mau juga gw pulang. Tapi langkah gw sungguh lunglai. Mungkin solusi yang dia pikir terbaik, bukanlah sesuatu yang baik bagi gw. dia tak tahu.
saielvarizie....true of experience
Singkatnya, gw meminta kebijakan. gw meminta pengecualian. Setelah berkonsultasi dengan bagian akademik, akhirnya pengecualian itu tak dapat diberikan. Jadi, ia tetap tidak dapat ikut ujian.
gw tampak tambah lesu. Bermenit-menit gw diam saja di hadapannya. dia coba menghibur gw dengan mengatakan, bahwa gw masih punya satu kali kesempatan : ujian lisan. gw masih terus diam.
dia lalu mulai menanyakan hal-hal sederhana, seputar keluarga gw, dan keseharian gw. Untung gw mau bercerita. Sampai akhirnya dia tahu, bahwa gw rupanya tak berani pulang karena pasti akan mendapatkan murka besar dari ayah lantaran tidak bisa ikut ujian. Mungkin murka yang satu ini akan lebih besar ketimbang murka sebelumnya saat ujian regulernya menghasilkan nilai E. Hmm, rupanya ia memiliki seorang ayah yang keras dan ‘galak’.
dia juga seorang ayah. Anaknya sulung hanya setahun saja lebih muda ketimbang gw. Tapi rasanya, boleh dibilang dia tak pernah memarahi anak-anaknya. Satu-satunya tegurannya yang agak keras adalah jika mereka tak segera beranjak sholat ketika waktu sholat telah tiba. Soal nilai akademik, dia tak merisaukannya. Soal pendidikan di sekolah, keinginannya sederhana saja. dia hanya ingin anak-anaknya terus belajar sampai maut nanti menjemputnya. Belajar apa saja yang bisa membuatnya menjadi lebih bermanfaat bagi semesta.
Tapi lain rumah, lain pula warnanya. dia bisa memahami kegundahan yang tengah dihadapi gw. Kalimat apa yang bisa dia sampaikan kepadanya agar dia kuat dan berani pulang? Kami, dia dan gw , tentu tak bisa terus berlama-lama di ruanganku. Sebentar lagi ada rapat yang perlu kuhadiri. dia berpikir akhirnya dia menemukan kalimat terbaik.
“Semua orang tak luput dari kesalahan. Kamu pulang saja, dan katakan kepada orangtuamu bahwa kamu salah. Tidak melakukan proses registrasi dengan benar. Minta maaf atas kesalahan itu. Sampaikan juga tekadmu untuk mengikuti ujian lisan dengan baik sehingga transkrip nilaimu bersih dari F. Ini no HP saya kalau-kalau orangtuamu ingin membicarakan soal ini dengan saya.”
Singkatnya, mau juga gw pulang. Tapi langkah gw sungguh lunglai. Mungkin solusi yang dia pikir terbaik, bukanlah sesuatu yang baik bagi gw. dia tak tahu.
saielvarizie....true of experience
Tidak ada komentar:
Posting Komentar