Perhiasan berharga yang terpendam ...
Bismillah...aku nukil kisah nyata ini dari sebuah buku mungil berjudul "AGAR PERNIKAHAN SEINDAH IMPIAN" semoga dapat bermanfaat bagi seorang muslimah agar dapat menjadikan pelajaran berharga dan bermanfaat bagi seorang muslim agar tak memandang wanita hanya dari kecantikan dan harta semata...
Sejak kecil aku mengenalmu, karena kau tetangga dekatku. Namun tak pernah terbayang engkau akan menjadi pendamping hidupku.
Sebenarnya engkau tak terlalu cantik, tapi lebih sulit untuk mengatakan engkau jelek, Biasa saja. engkau juga tak pernah memoleskan make-up di wajahmu, apalagi mengenakan perhiasan sebagaimana kebanyakan teman-temanmu. Namun kesahajaan itulah yang justru mengusik hatiku, sehingga ku memutuskan untuk memilihmu menjadi pendamping hiduoku. Engkau yang sederhana, pintar dan tak banyak bicara, sungguh terlihat dewasa.
Engkau bukan anak orang berpangkat, juga bukan keturunan ningrat. Tapi aku tak peduli, yang ku utamakan bukan itu. Tetapi raga yang selalu menutup aurat dan jiwa yang selalu mengutamakan akherat. Tekadku sudah bulat, kan ku pinang dirimu dalam waktu dekat.
Saat itu engkau baru lulus SMA. tak ku sangka menerima dengan kedua tangan terbuka. bahkan, demi aku , engkau rela mengorbankan keinginanmu untuk mencicipi bangku kuliah. Semua gurumu pun menyayangkan hal itu, karena menurut mereka engkau termasuk murid yang cerdas. Tapi entah mengapa, engkau lebih memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Sujud syukurku kepada ALLAH, alhamdulillah.
Semua serasa begitu mudah, dan kita pun menikah. saat itu usiaku 25 tahun, sedangkan usiamu baru 19 tahun. memang masih terlalu muda untuk kalangan umum, tetapi ternyata engkau berani mengambil keputusan itu. Engkau berani mengakhiri masa lajangmu di usia sedini itu. Aku pun semakin kagum padamu.
Sejak menikah hingga kini, belum pernah engkau mengeluh tentang keasaan yang kita alami. Padahal engkau tahu sendiri, penghasilanku yang tak seberapa, kadangkala tak seimbang antara pemasukan dan kebutuhan. Sering kita harus menekan beberapa keinginan , karena memang kita tak sangguo menggapainya. namun tak pernah ku lihat kristal bening menetes dari pelupuk matamu karena itu. BAhkan ketika engkau harus berhutang sekalipun.
Masih teringat ketika pertama kali kiya arungi bahtera ini di sebuah kontrakan mungil. sama sekali kita tak punya apa-apa, bahkan alas tidur pun tak ada. Tapi engkau begitu cerdik. seonggok pakaian kita yang masih tersimpan di dalam tas usang kau keluarkan. Engaku lipat, kemudian kau tumpuk dua hingga tiga pakaian, lalu kau bariskan sedemikian rupa hingga menyerupai kasur. kemudian engkau bentangkan kerudung lebarmu laksana seprei permadani menyelimutu kasur indah kita. engkau tersenyum dan mempersilahkan aku tidur. ku tatap wajahmu, ku balas senyum mu dengan genangan air mata haru.
Bersamamu, bergulirnya waktu terasa begitu cepat. Hari-hari berlalu selalu terasa indah. kekurangan materi yang menemani kita setiap hari, seakan bukan merupakan beban manakala kita aenantiasa ikhlas. dengan mu, begitu banyak pelajaran yang telah aku petik.
Ketika setahun usia pernikahan kita, tujuh bulan sudah usia kehamilanmu. aku begitu panik ketika tiba-tiba engkau mengalami pendarahan,tapi engkau begitu tenang, tak gugup sedikitpun. padahal dari keningmu yang berkerut dan nafasmu yang tertahan, aku tahu kau tengah menahan rasa sakit yang luar biasa. segera kubawa ke bidan, dan dia bilang ini tanda-tanda mau melahirkan.
Jam dua belas tengah malam, ketika semua insan terlelap dengan mimpi-mimpinya, anak pertama kita lahir, prematur. Ah... Betapa bahagianya aku, ku cium keningmuberulang kali. ku dengar kau berbisik, "Bi...aku lapar". Tersentak aku mendengarnya, Ya, seharian tadi engkau tidak memasak dan tidak makan karna sudah merasakan sakit sejak kemarin. Sedangkan sore tadi aku hanya beli sebungkus nasi di warung dan sudah kulahap habis, sebab tadi ketika kutawari kau tak mau. tak ada roti, tak ada jajanan, tak ada apa untuk menganjal perutmu. mau beli, seluruh toko dan warung sudah pada tutup. Akhirnya ku sodorkan segelas air putih yang disuguhkan bidan untukmu. dan engkau pun tak menuntut lebih dari itu. Kembali menggenang air mata di pelupuk mataku menyaksikan kebahagiaan yang tersirat di wajahmu. yah,, bayi mungil kita yang nampak sehat dan berbahagia telah menjadikanmu lupa lapar dan dahaga.
Tahun berganti dan engkau tak pernah berubah. Hampir sepuluh tahun kita bersama dalam kehidupan yang selalu sederhana, tapi kita tak pernah mengeluh. engkau jugatak pernah menuntut dunia sariku, tak pernah minta ini dan itu sebagaimana para istri kebanyakan. Beli pakaian saja mungkin tiga atau empat tahun sekali.Perhiasan? kau tak pernah mengenalnya. bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa hutang saja bagimu sudah lebih dari cukup.
Sungguh, aku beruntung sekali memilikimu. engkaulah sebenarnya perhiasan itu. SEmoga engkau selalu tegar mendampingiku, hingga kita jelang syurga bersama-sama insya ALLAH....

Sejak kecil aku mengenalmu, karena kau tetangga dekatku. Namun tak pernah terbayang engkau akan menjadi pendamping hidupku.
Sebenarnya engkau tak terlalu cantik, tapi lebih sulit untuk mengatakan engkau jelek, Biasa saja. engkau juga tak pernah memoleskan make-up di wajahmu, apalagi mengenakan perhiasan sebagaimana kebanyakan teman-temanmu. Namun kesahajaan itulah yang justru mengusik hatiku, sehingga ku memutuskan untuk memilihmu menjadi pendamping hiduoku. Engkau yang sederhana, pintar dan tak banyak bicara, sungguh terlihat dewasa.
Engkau bukan anak orang berpangkat, juga bukan keturunan ningrat. Tapi aku tak peduli, yang ku utamakan bukan itu. Tetapi raga yang selalu menutup aurat dan jiwa yang selalu mengutamakan akherat. Tekadku sudah bulat, kan ku pinang dirimu dalam waktu dekat.
Saat itu engkau baru lulus SMA. tak ku sangka menerima dengan kedua tangan terbuka. bahkan, demi aku , engkau rela mengorbankan keinginanmu untuk mencicipi bangku kuliah. Semua gurumu pun menyayangkan hal itu, karena menurut mereka engkau termasuk murid yang cerdas. Tapi entah mengapa, engkau lebih memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Sujud syukurku kepada ALLAH, alhamdulillah.
Semua serasa begitu mudah, dan kita pun menikah. saat itu usiaku 25 tahun, sedangkan usiamu baru 19 tahun. memang masih terlalu muda untuk kalangan umum, tetapi ternyata engkau berani mengambil keputusan itu. Engkau berani mengakhiri masa lajangmu di usia sedini itu. Aku pun semakin kagum padamu.
Sejak menikah hingga kini, belum pernah engkau mengeluh tentang keasaan yang kita alami. Padahal engkau tahu sendiri, penghasilanku yang tak seberapa, kadangkala tak seimbang antara pemasukan dan kebutuhan. Sering kita harus menekan beberapa keinginan , karena memang kita tak sangguo menggapainya. namun tak pernah ku lihat kristal bening menetes dari pelupuk matamu karena itu. BAhkan ketika engkau harus berhutang sekalipun.
Masih teringat ketika pertama kali kiya arungi bahtera ini di sebuah kontrakan mungil. sama sekali kita tak punya apa-apa, bahkan alas tidur pun tak ada. Tapi engkau begitu cerdik. seonggok pakaian kita yang masih tersimpan di dalam tas usang kau keluarkan. Engaku lipat, kemudian kau tumpuk dua hingga tiga pakaian, lalu kau bariskan sedemikian rupa hingga menyerupai kasur. kemudian engkau bentangkan kerudung lebarmu laksana seprei permadani menyelimutu kasur indah kita. engkau tersenyum dan mempersilahkan aku tidur. ku tatap wajahmu, ku balas senyum mu dengan genangan air mata haru.
Bersamamu, bergulirnya waktu terasa begitu cepat. Hari-hari berlalu selalu terasa indah. kekurangan materi yang menemani kita setiap hari, seakan bukan merupakan beban manakala kita aenantiasa ikhlas. dengan mu, begitu banyak pelajaran yang telah aku petik.
Ketika setahun usia pernikahan kita, tujuh bulan sudah usia kehamilanmu. aku begitu panik ketika tiba-tiba engkau mengalami pendarahan,tapi engkau begitu tenang, tak gugup sedikitpun. padahal dari keningmu yang berkerut dan nafasmu yang tertahan, aku tahu kau tengah menahan rasa sakit yang luar biasa. segera kubawa ke bidan, dan dia bilang ini tanda-tanda mau melahirkan.
Jam dua belas tengah malam, ketika semua insan terlelap dengan mimpi-mimpinya, anak pertama kita lahir, prematur. Ah... Betapa bahagianya aku, ku cium keningmuberulang kali. ku dengar kau berbisik, "Bi...aku lapar". Tersentak aku mendengarnya, Ya, seharian tadi engkau tidak memasak dan tidak makan karna sudah merasakan sakit sejak kemarin. Sedangkan sore tadi aku hanya beli sebungkus nasi di warung dan sudah kulahap habis, sebab tadi ketika kutawari kau tak mau. tak ada roti, tak ada jajanan, tak ada apa untuk menganjal perutmu. mau beli, seluruh toko dan warung sudah pada tutup. Akhirnya ku sodorkan segelas air putih yang disuguhkan bidan untukmu. dan engkau pun tak menuntut lebih dari itu. Kembali menggenang air mata di pelupuk mataku menyaksikan kebahagiaan yang tersirat di wajahmu. yah,, bayi mungil kita yang nampak sehat dan berbahagia telah menjadikanmu lupa lapar dan dahaga.
Tahun berganti dan engkau tak pernah berubah. Hampir sepuluh tahun kita bersama dalam kehidupan yang selalu sederhana, tapi kita tak pernah mengeluh. engkau jugatak pernah menuntut dunia sariku, tak pernah minta ini dan itu sebagaimana para istri kebanyakan. Beli pakaian saja mungkin tiga atau empat tahun sekali.Perhiasan? kau tak pernah mengenalnya. bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa hutang saja bagimu sudah lebih dari cukup.
Sungguh, aku beruntung sekali memilikimu. engkaulah sebenarnya perhiasan itu. SEmoga engkau selalu tegar mendampingiku, hingga kita jelang syurga bersama-sama insya ALLAH....
Cinta Sejati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar