bismillah...
Janganlah dikira kehidupan ulama sehari-hari selalu serius. Kadangkala mereka juga bergurau dan berkelakar. Ada beberapa cerita tentang gurau canda para ulama kontemporer yang pernah ana baca. Berikut ana kutip sebagian diantaranya :
1. Ada seorang pemuda penuntut ilmu naik kereta bersama Syaikh Albani. Syaikh Albani mengemudikan keretanya dengan laju, sehinggakan pemuda tersebut merasa takut. Lalu pemuda itu menegur Syaikh Albani dengan berkata : “Ya Syaikh, janganlah terlalu laju, mengemudi seperti ini hukumnya tidak boleh, dan Syaikh bin Baz kata hal seperti ini termasuk menjerumuskan dalam kebinasaan”. Mendengar kata-kata pemuda itu, Syaikh Albani tertawa dan berkata : “Fatwa (Syaikh bin Baz) tersebut keluar dari seorang yang tidak pernah merasakan sedapnya mengemudi dengan laju!”. Pemuda itu berkata “ Syaikh, saya akan laporkan perkataan ini kepada Syaikh bin Baz”. Jawab Syaikh Albani : “Silakan, laporkan saja”. Kemudian pemuda tersebut bertemu dengan Syaikh bin Baz di Makkah dan menceritakan kejadian yang dialaminya dengan Syaikh Albani. Maka Syaikh bin Baz tertawa dan berkata : “Itu adalah fatwa orang yang belum pernah merasakan sedapnya disaman polis!” (Sumber : Majalah Al Furqon edisi 5/7 th 1428 H, menukil dari kitab “Al Imam Ibnu Baz, Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar” karangan Syaikh As-Sadhan).
2. Suatu hari Syaikh bin Baz bertanya kepada seorang penuntut ilmu : “Mengapa engkau tidak berpoligami”? Ia menjawab : “Ya Syaikh, saya seorang yang ber’tauhid’ (maksudnya ‘tauhid’ = cukup satu istri)”. Maka Syaikh berkata : “Kesian, itu adalah tauhidnya orang penakut (dengan istri)”. (Sumber : Majalah Al Furqon edisi 6/7 th 1428 H, menukil dari kitab “Al Imam Ibnu Baz, Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar” karangan Syaikh As-Sadhan).
3. Syaikh Ihsan al-Utaibi bercerita : Setelah selesai shalat di Masjidil Haram, Syaikh Ibnu Utsaimin mencari taxi untuk pergi ke suatu tempat. Maka beliau menghentikan sebuah taxi yang kebetulan lewat. Ketika dalam taxi, driver taxi bertanya : “ Nama anda siapa wahai Syaikh?”. Syaikh menjawab : “Muhammad bin Utsaimin”. Driver taxi terkejut dan berkata : “Antum Syaikh Utsaimin ?” Ia mengira Syaikh berbohong, kerana ia tidak mengenal Syaikh Utsaimin. Syaikh menjawab : “Ya, saya Syaikh Utsaimin. Sedangkan engkau, siapa namamu wahai saudaraku?” Syaikh balik bertanya. Driver taxi yang mengira Syaikh berbohong balas menjawab : “Saya Syaikh bin Baz !” Syaikh Utsaimin lalu tertawa dan bertanya : “Engkau Syaikh bin Baz? Bukankah beliau tidak bisa melihat dan tidak bisa menyetir kereta?”. Mendengar perkataan Syaikh, driver taxi tak bisa berkata apa-apa kerana malu, dan barulah sedar bahwa penumpangnya memang Syaikh Utsaimin yang sebenar. (Sumber : “Sahafat Musiqah min Hayatil Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin”)
1. Ada seorang pemuda penuntut ilmu naik kereta bersama Syaikh Albani. Syaikh Albani mengemudikan keretanya dengan laju, sehinggakan pemuda tersebut merasa takut. Lalu pemuda itu menegur Syaikh Albani dengan berkata : “Ya Syaikh, janganlah terlalu laju, mengemudi seperti ini hukumnya tidak boleh, dan Syaikh bin Baz kata hal seperti ini termasuk menjerumuskan dalam kebinasaan”. Mendengar kata-kata pemuda itu, Syaikh Albani tertawa dan berkata : “Fatwa (Syaikh bin Baz) tersebut keluar dari seorang yang tidak pernah merasakan sedapnya mengemudi dengan laju!”. Pemuda itu berkata “ Syaikh, saya akan laporkan perkataan ini kepada Syaikh bin Baz”. Jawab Syaikh Albani : “Silakan, laporkan saja”. Kemudian pemuda tersebut bertemu dengan Syaikh bin Baz di Makkah dan menceritakan kejadian yang dialaminya dengan Syaikh Albani. Maka Syaikh bin Baz tertawa dan berkata : “Itu adalah fatwa orang yang belum pernah merasakan sedapnya disaman polis!” (Sumber : Majalah Al Furqon edisi 5/7 th 1428 H, menukil dari kitab “Al Imam Ibnu Baz, Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar” karangan Syaikh As-Sadhan).
2. Suatu hari Syaikh bin Baz bertanya kepada seorang penuntut ilmu : “Mengapa engkau tidak berpoligami”? Ia menjawab : “Ya Syaikh, saya seorang yang ber’tauhid’ (maksudnya ‘tauhid’ = cukup satu istri)”. Maka Syaikh berkata : “Kesian, itu adalah tauhidnya orang penakut (dengan istri)”. (Sumber : Majalah Al Furqon edisi 6/7 th 1428 H, menukil dari kitab “Al Imam Ibnu Baz, Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar” karangan Syaikh As-Sadhan).
3. Syaikh Ihsan al-Utaibi bercerita : Setelah selesai shalat di Masjidil Haram, Syaikh Ibnu Utsaimin mencari taxi untuk pergi ke suatu tempat. Maka beliau menghentikan sebuah taxi yang kebetulan lewat. Ketika dalam taxi, driver taxi bertanya : “ Nama anda siapa wahai Syaikh?”. Syaikh menjawab : “Muhammad bin Utsaimin”. Driver taxi terkejut dan berkata : “Antum Syaikh Utsaimin ?” Ia mengira Syaikh berbohong, kerana ia tidak mengenal Syaikh Utsaimin. Syaikh menjawab : “Ya, saya Syaikh Utsaimin. Sedangkan engkau, siapa namamu wahai saudaraku?” Syaikh balik bertanya. Driver taxi yang mengira Syaikh berbohong balas menjawab : “Saya Syaikh bin Baz !” Syaikh Utsaimin lalu tertawa dan bertanya : “Engkau Syaikh bin Baz? Bukankah beliau tidak bisa melihat dan tidak bisa menyetir kereta?”. Mendengar perkataan Syaikh, driver taxi tak bisa berkata apa-apa kerana malu, dan barulah sedar bahwa penumpangnya memang Syaikh Utsaimin yang sebenar. (Sumber : “Sahafat Musiqah min Hayatil Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin”)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar