Jumat, 21 Januari 2011

Anak Muda dan Bahasa Alay


A : N4nt1 50re ud 4d4 4cr4 g4? B : Gk, ‘loM 4d4, knp? A : M0 Nnt0n sm W 94k? B : Bwleh, y03ks.. :-))
Yang Anda lihat di atas sama sekali bukan kode bahasa rahasia intelijen. Tapi sekadar gaya bahasa tulis yang sedang populer di kalangan anak muda sekarang ini. Gaya bahasa ini mudah Anda jumpai di SMS yang ada di handphone mereka, atau pada status dan wall Facebook anak-anak muda.

Mungkin Anda akan langsung merasa sebal atau malah pusing membacanya. Namun, jika sudah bisa menebak artinya, Anda jangan keburu senang dulu. Sebab tidak selamanya Anda langsung bisa paham maksudnya.
Persoalannya, tidak ada kaidah tetap untuk bahasa-bahasa ini. Satu-satunya aturan adalah justru ketidakaturan itu sendiri. Jangan dibahas apa rumusnya “gue” bisa menjadi: gw, W, atau malah G saja. Belum lagi untuk menyatakan ekspresi, kemungkinannya semakin tidak terbatas. Contohnya untuk tertawa, jika Anda hanya mengenal hehehe… atau he3x, sekarang ada wkwkwk, xixixi, haghaghag, dan sebagainya. Jangan bayangkan pula bagaimana ini mau diucapkan secara lisan, karena untunglah ini hanya bahasa tulis.
Awal mula kemunculan bahasa rumit ini tak lepas dari perkembangan SMS atau layanan pesan singkat. Namanya pesan singkat, maka menulisnya jadi serba singkat, agar pesan yang panjang bisa terkirim hanya dengan sekali SMS. Selain itu juga agar tidak terlalu lama mengetik dengan tombol handphone yang terbatas. Awalnya memang hanya serba menyingkat. Kemudian huruf-huruf mulai diganti dengan angka, atau diganti dengan huruf lain yang jika dibaca kurang lebih menghasilkan bunyi yang mirip.
Belakangan, bukannya disingkat malah dilebih-lebihkan, seperti “dulu” menjadi “duluw”. Ketika jejaring sosial lewat internet datang sebagai media baru yang mewabah, budaya menulis pesan singkat ini terbawa dan makin hidup di situ. Lambat laun ini menjadi semacam sub budaya dalam cara berkomunikasi anak muda yang kemudian disebut sebagai Anak Alay, dengan Bahasa Alay sebagai intangible artefact-nya.
Ada sumber yang menyebutkan, alay ini berasal dari singkatan “anak layangan”, yang punya asosiasi pada anak muda tukang kelayapan, atau anak kampung yang berlagak mengikuti tren fashion dan musik. Ada lagi yag sekadar merujuk pada anak muda yang demi mendapatkan pengakuan di tengah lingkungan pergaulan akan melakukan apa saja, dari meniru gaya pakaian, gaya berfoto dengan muka yang sangat dibuat-buat, hingga cara menulis yang dibuat “sok” kreatif dan rumit seperti di atas.
Fenomena bahasa alay itu sendiri mengingatkan pada fenomena bahasa gaul yang hampir selalu ada pada setiap generasi anak muda. Bahasa-bahasa gaul yang tidak serta merta hilang terkubur dibawa peralihan generasi. Seperti “bokap” atau “nyokap”, jejak bahasa prokem yang tentu Anda masih sering dengar dalam bahasa percakapan saat ini.
Menengok lebih jauh lagi ke belakang, generasi eyang-eyang yang besar di kawasan segitiga Yogyakarta-Solo-Semarang era tahun empatpuluhan sampai limapuluhan pernah menciptakan apa yang mereka namakan bahasa rahasia, dengan menyisipkan “in” di antara huruf mati dan huruf hidup. Jadi jika ingin mengatakan “mambu wangi” (bau harum) akan menjadi “minambinu winangini”. Untuk yang advance, bahasa “in” ini dibuat lebih sulit lagi dengan memenggal bagian belakang. Sehingga “mambu wangi” cukup menjadi “minam winang”.
Di era delapanpuluhan, bahasa rahasia ini nyaris punah. Peninggalannya hanya tersisa pada bahasa lisan para eyang. Meski demikian melalui media radio sempat ada upaya reproduksi bahasa ini untuk penyebutan “cewek” jadi “cinewine”. Ingat? Di era delapanpuluhan ini yang lebih terkenal adalah bahasa prokem. Rumusnya adalah menyisipkan bunyi “ok” dan penghilangan suku kata terakhir. Seperti “bapak” jadi “bokap”. Dibandingkan bahasa rahasia Jawa, aturan atau rumus untuk bahasa “okem” ini lebih tidak beraturan lagi. Kaidahnya jadi irregular seperti “mobil” jadi “bo’il”, atau “dia” jadi “doi” atau “doski”, atau yang termasuk jauh, “makan” jadi “keme”. Jujur saja, Anda yang merasa senior pun masih menggunakan bahasa-bahasa ini untuk kalangan Anda sendiri bukan?
Di era sembilanpuluhan anak muda Yogyakarta membuat bahasa walikan, yaitu menukar huruf-huruf dalam urutan alfabet Hanacaraka. Rumusnya, ha-na-ca-ra-ka bertukar dengan pa-dha-ja-ya-nya, sementara da-ta-sa-wa-la bertukar dengan ma-ga-ba-tha-nga. Akibatnya, huruf “m” jadi “d”, huruf “t” jadi “g”. Contohnya, “matamu” menjadi “dagadu”, seperti merek industri kaos terkenal yang digemari anak muda di Yogya. Bahasa walikan ini awalnya muncul sebagai bahasa gaul di lingkungan kampus, sebagai respon terhadap masuknya pengaruh kultur baru yang dibawa para mahasiswa dari luar kota Yogyakarta.
Jika bahasa walikan adalah respon kultural anak muda terhadap perubahan yang datang dari luar, dan bahasa prokem punya konteks perlawanan anak muda urban kelas menengah terhadap hipokrisi orang dewasa, maka bahasa alay saat ini lebih mencerminkan kultur yang arbitrer, serba acak dan suka suka. Penyebabnya, teknologi komunikasi dan informasi dengan jejaring informasi betul-betul membuat dunia lebih datar, seolah-olah tiap individu bebas untuk mengusung produk budaya masing-masing. Sehingga de facto tidak ada aturan yang benar-benar dianut secara baku seperti tampak dari bentuk bahasa alay yang tidak beraturan itu. Buat Anda generasi dewasa jangan merasa tertinggal jika Anda tidak mampu mengejar istilah-istilah baru ini. Karena semakin dikejar, semakin banyak yang muncul lebih aneh lagi, sama banyak dengan yang tersisih karena dianggap lawas dan “jadul”.
74d1, 5l4m4t d4t4n9 d1 dun14 a1ay!

bismillah...

Janganlah dikira kehidupan ulama sehari-hari selalu serius. Kadangkala mereka juga bergurau dan berkelakar. Ada beberapa cerita tentang gurau canda para ulama kontemporer yang pernah ana baca. Berikut ana kutip sebagian diantaranya :

1. Ada seorang pemuda penuntut ilmu naik kereta bersama Syaikh Albani. Syaikh Albani mengemudikan keretanya dengan laju, sehinggakan pemuda tersebut merasa takut. Lalu pemuda itu menegur Syaikh Albani dengan berkata : “Ya Syaikh, janganlah terlalu laju, mengemudi seperti ini hukumnya tidak boleh, dan Syaikh bin Baz kata hal seperti ini termasuk menjerumuskan dalam kebinasaan”. Mendengar kata-kata pemuda itu, Syaikh Albani tertawa dan berkata : “Fatwa (Syaikh bin Baz) tersebut keluar dari seorang yang tidak pernah merasakan sedapnya mengemudi dengan laju!”. Pemuda itu berkata “ Syaikh, saya akan laporkan perkataan ini kepada Syaikh bin Baz”. Jawab Syaikh Albani : “Silakan, laporkan saja”. Kemudian pemuda tersebut bertemu dengan Syaikh bin Baz di Makkah dan menceritakan kejadian yang dialaminya dengan Syaikh Albani. Maka Syaikh bin Baz tertawa dan berkata : “Itu adalah fatwa orang yang belum pernah merasakan sedapnya disaman polis!” (Sumber : Majalah Al Furqon edisi 5/7 th 1428 H, menukil dari kitab “Al Imam Ibnu Baz, Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar” karangan Syaikh As-Sadhan).

2. Suatu hari Syaikh bin Baz bertanya kepada seorang penuntut ilmu : “Mengapa engkau tidak berpoligami”? Ia menjawab : “Ya Syaikh, saya seorang yang ber’tauhid’ (maksudnya ‘tauhid’ = cukup satu istri)”. Maka Syaikh berkata : “Kesian, itu adalah tauhidnya orang penakut (dengan istri)”. (Sumber : Majalah Al Furqon edisi 6/7 th 1428 H, menukil dari kitab “Al Imam Ibnu Baz, Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar” karangan Syaikh As-Sadhan).

3. Syaikh Ihsan al-Utaibi bercerita : Setelah selesai shalat di Masjidil Haram, Syaikh Ibnu Utsaimin mencari taxi untuk pergi ke suatu tempat. Maka beliau menghentikan sebuah taxi yang kebetulan lewat. Ketika dalam taxi, driver taxi bertanya : “ Nama anda siapa wahai Syaikh?”. Syaikh menjawab : “Muhammad bin Utsaimin”. Driver taxi terkejut dan berkata : “Antum Syaikh Utsaimin ?” Ia mengira Syaikh berbohong, kerana ia tidak mengenal Syaikh Utsaimin. Syaikh menjawab : “Ya, saya Syaikh Utsaimin. Sedangkan engkau, siapa namamu wahai saudaraku?” Syaikh balik bertanya. Driver taxi yang mengira Syaikh berbohong balas menjawab : “Saya Syaikh bin Baz !” Syaikh Utsaimin lalu tertawa dan bertanya : “Engkau Syaikh bin Baz? Bukankah beliau tidak bisa melihat dan tidak bisa menyetir kereta?”. Mendengar perkataan Syaikh, driver taxi tak bisa berkata apa-apa kerana malu, dan barulah sedar bahwa penumpangnya memang Syaikh Utsaimin yang sebenar. (Sumber : “Sahafat Musiqah min Hayatil Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin”)

Memahami Mengapa Wanita Menangis

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab aku wanita". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."

Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis?, Ibu menangis tanpa sebab yang jelas". sang ayah menjawab, "Semua wanita memang sering menangis tanpa alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Sampai kemudian si anak itu tumbuh menjadi remaja, ia tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Hingga pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"

Dalam mimpinya ia merasa seolah Tuhan menjawab, "Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.

Kepada wanita, Kuberikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap akesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.

Dan akhirnya Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapan pun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan".

Perhiasan berharga yang terpendam ...

Perhiasan berharga yang terpendam ...


Bismillah...aku nukil kisah nyata ini dari sebuah buku mungil berjudul "AGAR PERNIKAHAN SEINDAH IMPIAN" semoga dapat bermanfaat bagi seorang muslimah agar dapat menjadikan pelajaran berharga dan bermanfaat bagi seorang muslim agar tak memandang wanita hanya dari kecantikan dan harta semata...

Sejak kecil aku mengenalmu, karena kau tetangga dekatku. Namun tak pernah terbayang engkau akan menjadi pendamping hidupku.
Sebenarnya engkau tak terlalu cantik, tapi lebih sulit untuk mengatakan engkau jelek, Biasa saja. engkau juga tak pernah memoleskan make-up di wajahmu, apalagi mengenakan perhiasan sebagaimana kebanyakan teman-temanmu. Namun kesahajaan itulah yang justru mengusik hatiku, sehingga ku memutuskan untuk memilihmu menjadi pendamping hiduoku. Engkau yang sederhana, pintar dan tak banyak bicara, sungguh terlihat dewasa.

Engkau bukan anak orang berpangkat, juga bukan keturunan ningrat. Tapi aku tak peduli, yang ku utamakan bukan itu. Tetapi raga yang selalu menutup aurat dan jiwa yang selalu mengutamakan akherat. Tekadku sudah bulat, kan ku pinang dirimu dalam waktu dekat.

Saat itu engkau baru lulus SMA. tak ku sangka menerima dengan kedua tangan terbuka. bahkan, demi aku , engkau rela mengorbankan keinginanmu untuk mencicipi bangku kuliah. Semua gurumu pun menyayangkan hal itu, karena menurut mereka engkau termasuk murid yang cerdas. Tapi entah mengapa, engkau lebih memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Sujud syukurku kepada ALLAH, alhamdulillah.

Semua serasa begitu mudah, dan kita pun menikah. saat itu usiaku 25 tahun, sedangkan usiamu baru 19 tahun. memang masih terlalu muda untuk kalangan umum, tetapi ternyata engkau berani mengambil keputusan itu. Engkau berani mengakhiri masa lajangmu di usia sedini itu. Aku pun semakin kagum padamu.

Sejak menikah hingga kini, belum pernah engkau mengeluh tentang keasaan yang kita alami. Padahal engkau tahu sendiri, penghasilanku yang tak seberapa, kadangkala tak seimbang  antara pemasukan dan kebutuhan. Sering kita harus menekan beberapa keinginan , karena memang kita tak sangguo menggapainya. namun tak pernah ku lihat kristal bening menetes dari pelupuk matamu karena itu. BAhkan ketika engkau harus berhutang sekalipun.

Masih teringat ketika pertama kali kiya arungi bahtera ini di sebuah kontrakan mungil. sama sekali kita tak punya apa-apa, bahkan alas tidur pun tak ada. Tapi engkau begitu cerdik. seonggok pakaian kita yang masih tersimpan di dalam tas usang kau keluarkan. Engaku lipat, kemudian kau tumpuk dua hingga tiga pakaian, lalu kau bariskan sedemikian rupa hingga menyerupai kasur. kemudian engkau bentangkan kerudung lebarmu laksana seprei permadani menyelimutu kasur indah kita. engkau tersenyum dan mempersilahkan aku tidur. ku tatap wajahmu, ku balas senyum mu dengan genangan air mata haru.

Bersamamu, bergulirnya waktu terasa begitu cepat. Hari-hari berlalu selalu terasa indah. kekurangan materi yang menemani kita setiap hari, seakan bukan merupakan beban manakala kita aenantiasa ikhlas. dengan mu, begitu banyak pelajaran yang telah aku petik.
Ketika setahun usia pernikahan kita, tujuh bulan sudah usia kehamilanmu. aku begitu panik ketika tiba-tiba engkau mengalami pendarahan,tapi engkau begitu tenang, tak gugup sedikitpun. padahal dari keningmu yang berkerut dan nafasmu yang tertahan, aku tahu kau tengah menahan rasa sakit yang luar biasa. segera kubawa ke bidan, dan dia bilang ini tanda-tanda mau melahirkan.

Jam dua belas tengah malam, ketika semua insan terlelap dengan mimpi-mimpinya, anak pertama kita lahir, prematur. Ah... Betapa bahagianya aku, ku cium keningmuberulang kali. ku dengar kau berbisik, "Bi...aku lapar". Tersentak aku mendengarnya, Ya, seharian tadi engkau tidak memasak dan tidak makan karna sudah merasakan sakit sejak kemarin. Sedangkan sore tadi aku hanya beli sebungkus nasi di warung dan sudah kulahap habis, sebab tadi ketika kutawari kau tak mau. tak ada roti, tak ada jajanan, tak ada apa untuk menganjal perutmu. mau beli, seluruh toko dan warung sudah pada tutup. Akhirnya ku sodorkan segelas air putih yang disuguhkan bidan untukmu. dan engkau pun tak menuntut lebih dari itu. Kembali menggenang air mata di pelupuk mataku menyaksikan kebahagiaan yang tersirat di wajahmu. yah,, bayi mungil kita yang nampak sehat dan berbahagia telah menjadikanmu lupa lapar dan dahaga.

Tahun berganti dan engkau tak pernah berubah. Hampir sepuluh tahun kita bersama dalam kehidupan yang selalu sederhana, tapi kita tak pernah mengeluh. engkau jugatak pernah menuntut dunia sariku, tak pernah minta ini dan itu sebagaimana para istri kebanyakan. Beli pakaian saja mungkin tiga atau empat tahun sekali.Perhiasan? kau tak pernah mengenalnya. bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa hutang saja bagimu sudah lebih dari cukup.
Sungguh, aku beruntung sekali memilikimu. engkaulah sebenarnya perhiasan itu. SEmoga engkau selalu tegar mendampingiku, hingga kita jelang syurga bersama-sama insya ALLAH....
Cinta Sejati

Senin, 17 Januari 2011

PAPA

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan PAPA?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.

Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,

Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang" Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja....Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!". Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?

Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama.....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? "Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa....Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain....Papa harus melepasmu di bandara....Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat. Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...Kata- kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!". Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu". Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin....Karena Papa tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya.... Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk... Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya.....Papa telah menyelesaikan tugasnya.....

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. ..Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal.

sumber: unknown

puisi

Bismillah,,
Jika boleh aku berkata jujur,,
Maka aku akan mengatakan,,
  "Sesungguhnya,,
   Ibuku ta pernah marah,,
   Ibuku selalu memberi senyuman,,
   Ibuku selalu meluangkan waktunya untukku,,
   Ibuku selalu mendo'akan yang baik untukku,,
Tapi,,
   Terkadang amarah ibu muncul,,
      karena ulahku,,
   Terkadang senyuman ibu berubah,,
      karena ulahku pula,,
   Terkadang ibu enangis,,
      karena ulahku juga..yang selalu membuatnya jengkel,,
Namun,,
   Dimalam hari yang sunyi,,sepi,,
   Ibu terbangun,,
   Ibu pergi ke hammam untuk berwudhu,,
   Ibu berwudhu untuk shalat tahajud,,
   Ibu menghadapkan badannya ke arah kiblat,,
   Ibu shalat dengan penuh kekhusyuan,,
   Ibu shalat dengan penuh harapan,,
   Diakhir shalatnya,,
   Ibu berdo'a pada Allah,,
   Ibu memohon pertolongan pada Allah,,
   Ibu menangis disela-sela do'anya,,
   Ibu mengeluh,,mengadu pada Allah,,
        Ibu memohon,,
          Ya Rabb,,
          Jadikanlah anak-anakku seorang yang shalih,,
          Jadikanlah anak-anakku yang berbakti pada orangtuanya,,
          Jadikanlah anak-anakku yang selalu mensyukuri ni'mat-Mu,,
          Jadikanlah anak-anakku seorang yang faqih,,
          Jadikanlah anak-anakku, yaitu titipan amanah-Mu,,yang menjadi teladan yang baik,,
          dan segala do'a ia panjatkan pada Allah,,
               Yang Maha Mendengar,,
               Yang Maha Melihat,,
               Yang Maha Mengabulkan,,
               Yang Maha Kaya Atas Segala Sesuatu,,"
Duhai Ibuku yang baik,,
          Maafkan anakmu,,
            yang selalu membuatmu marah,,
            yang selalu membuatmu jengkel,,
            yang selalu merubah keadaan baik,,
            yang selalu membuatmu menangis,,
            yang selalu membuatmu kecewa,,
            yang selalu membuatmu susah,,
            dan segala hal yang membuatmu berat,,
Duhai Ibuku yang kusayangi,,
            aku merasakan rasa kasih sayangmu,,
            aku merasakan jerih payahmu,,
            aku merasakan kau ada disisiku,,
   Tapi,,
            itu semua kurasakan ketika ku beranjak dewasa,,
            ketika ku memperhatikan perlakuanmu,,
            ketika ku merenungi nasihat-nasihatmu,,
Dan akupun berkata,,
     "Bodohnya diriku, ketika aku baru merasakannya sekarang,,
      Sedangkan Ibu telah memberikan banyak perlakuan baik padaku,,"
          Aku termenung, terdiam sesaat,,dan berfikir,,
                "Apakah munkin aku bisa membalas jasamu,,?"
Duhai Ibuku yang kucintai,,
            aku minta maaf padamu,,
            atas semua salahku,,
Duhai Ibuku yang kurindui,,
            Aku belum ingin berpisah dengan dirimu,
            Aku masih ingin merasakan kasih sayangmu,,
            Aku masih ingin berada di sampingmu,,
            Aku masih ingin merasakan kebahagiaan disisimu,,
Duhai Ibu,,
            Apakah kau masih menerima aku,,?
            Apakah kau masih mau mendidikku,,?
            Apakah kau masih mau menerima keberadaanku,,?
          Ibu,,
            Jasamu ta bisa dibalas dengan harta,,
            Jasamu ta bisa dibalas dengan uang,,
         Dan jasamu ta bisa dibalas dengan appun,,
            kecuali aku bisa merasakan apa yang kau rasakan,,
          Ibu,,
            Berbu maaf aku minta padamu,,
            Agar kau berdo'a pada Allah,,
            tuk memaafkan kesalahan anakmu,,
          Ibu,,
          Ibu,,
          Ibu,,
            Disini aku menangis,
            Aku ingin selalu ada disisimu,
            Aku belum ingin berpisah denganmu,,
          Ibu,,
          Ibu,,
          Ibu,,
      Inginnya aku berteriak,,sekeras munkin,,
      Agar kau mendengar permintaan maafku,,
          Ibu,,
          Ibu,,
          Ibu,,
             Maafkan anakmu,,
             Aku mohon maaf atas semua salahku,,
             Aku ingin bisa memberi yang terbaik untukmu,,
             untuk membalas semua jerih payahmu,,
          Ibu,,
              Maafkan anakmu,,

Ya Rabb,,
Hamba mohon maaf pada-Mu,,
Jadikanlah kami hamba yang ta'at pada perintah-Mu,,
     hamba yang beriman pada-Mu,,
     hamb ayang bertaqwa pada=Mu,,
Hamba mohon ampun pada-Mu,,
Atas semua dosa-dosa, semua salah hamba pada-Mu,, dan pada orangtuaku,,

Ya Rabb,,
Yang Maha Melihat,
Yang Maha Mengampuni,,
Yang Maha Kaya Atas Segala Sesuatu,,
kabulkanlah permintaan hamba,,
     Aku sayang Ibu SELAMANYA,,

Beginilah akibatnya orang Malaysia menterjemahkan istilah-istilah Komputer.

Beginilah akibatnya orang Malaysia menterjemahkan istilah-istilah Komputer.

Istilah:
Hardware: barang keras
Software: barang lembut
Joystick: batang bahagia
Plug and Play: cucuk dan main
Port: lubang
Server: pelayan
Client= pelanggan

Contoh:
“That server gives a plug and play service to the clients using either hardware or software joystick. The joystick goes into the port of the client.”

Translated:
“Pelayan itu memberi pelanggannya layanan cucuk dan main dengan mempergunakan batang bahagia jenis keras atau lembut. Batang bahagia
itu dimasukkan ke dalam lubang pelanggan.”

(alamaaaaaaaak gubraaaaaaaaaaaxxxxxxx)

perjuangan tanpa henti

Seorang ayah meminta anak kecilnya

menyingkirkan pohon kecil yang tumbang



Sang anak mengeluh bahwa dia tak mungkin kuat



...Ayah memaksa



Anak mencoba, gagal, mengeluh



Ayah memaksa lagi



Anak mencoba lagi, lalu menyerah



Anakku, sudahkah kau gunakan semua kekuatanmu?



Sudah!



Belum. Kamu belum minta tolong ayah



Maka



Jadilah pribadi yang mudah dibantu sesama

dan berdoalah agar engkau mudah dibantu Tuhan.

(inspired from Mario Teguh)



kawan ,,,sebuah Keinginan adalah tenaga

bagi upaya untuk keluar dari kekurangan.



Maka upayakan untuk membentuk sebuah harapan indah bagi orang-orang tercinta kita,,,

Tetap semangat, penuh doa dan optimis,pantang menyerah,, dan semoga Tuhan mengabulkan impian kita,,

percayalah,

Rabu, 12 Januari 2011

A Dream of the Dreamers

A Dream of the Dreamers
“nggi…Anggi…!!”, seorang ibu memAnggil anaknya.
“iya bu… sebentar..Anggi ganti baju dulu”, sahut Anggi.
Setelah mengganti seragam sekolahnya dengan seragam dinasnya, Anggi segera mengambil sebuah karung goni yang terselip di dinding dari anyaman bambu gubuknya yang hanya ia tinggali bersama ibunya. Ya.. sepulang sekolah Anggi selalu membantu ibunya memulung berkeliling kota mencari barang-barang bekas yang dapat di jual kembali untuk menyambung hidup mereka di hari berikutnya.
Siang ini mentari terasa sangat terik. Itu tak menyurutkan niat anak kelas 5 SD itu untuk turut serta membantu ibunya. Panas memang. Anggi tak sama seperti kebanyakan anak perempuan lain yang ‘takut hitam’. Anggi telah kebal dengan ejekan teman-temannya yang kebanyakan berasal dari keluarga kaya yang menyebutnya ‘Anggi si arang’. Kulit Anggi memang hitam. Tapi itu tak menutupi paras ayunya yang semakin lengkap  dengan lesung pipit di pipi kirinya yang semakin membuatnya terlihat manis saat tersenyum. Anggi bersekolah di sebuah sekolah dasar swasta tempat anak-anak orang kaya bersekolah yang pastinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. (“tapi Anggi kan…?”). Anggi bisa bersekolah di tempat itu berkat bantuan seorang dermawan yang bersedia menanggung semua biaya sekolah dan perlengkapan sekolah Anggi karena melihat potensi dan semangat Anggi untuk bersekolah. Tapi dermawan tersebut hanya membiayai sekolah Anggi sampai kelas 2 SD, karena saat naik ke kelas 3 Anggi mendapat beasiswa sebagai siswa berprestasi di sekolahnya. Prestasinya mampu bertahan hingga sekarang.
“Bu.. udah yuk.. karung Anggi udah penuh nih..”, kata Anggi seraya menyeka keringatnya yang mengalir di pelipisnya.
“hmm.. ya udah.. Anggi istirahat dulu di sana.. Di bawah pohon itu.. ibu masih bawa karung kosong kok.. biar ibu lanjut..”, kata ibu, sambil menunjuk ke arah pohon beringin besar yang terlihat teduh dan sejuk.
“tapi bu…”, Anggi menyela.
“udah deh nak.. kamu istirahat aja.. ibu gak papa kok..”
“ya udah deh bu.. ibu kalau capek istirahat yaa…”
Anggipun berjalan menuju pohon beringin itu. Ia duduk di akar pohon dan bersandar di batang pohon tersebut. Angin sepoi menyapu kulit wajah Anggi yang basah karena berkeringat, juga rambut lurus sebahu Anggi yang terurai hingga berterbangan menutupi sebagian wajahnya. Di ambilnya rambut yang menutupi wajahnya, kemudian diselipkan ke belakang telinganya dengan ujung jarinya. Ia mengambil nafas panjang sambil memejamkan mata, lalu menghembuskannya seraya tersenyum dan berkata “Alangkah indahya dunia ini. Aku beruntung memiliki segalanya..”. walaupun bisa di bilang masih kecil, Anggi sudah bisa berpikir bijaksana. Manja tak ada dalam kamus hidupnya. Sejak kecil ia telah hidup prihatin bersama Ibunya. Angin sepoi terus saja membelainya. Rasa kantuk mulai menghampirinya. Tak di sadari, perlahan matanya mulai terpejam.
***
“Sekarang saya akan bacakan peringkat prestasi kelulusan anak-anak kelas 6 yang telah mengikuti ujian akhir nasional..yang di pAnggil di harap segera menempatkan diri di panggung utama.. peringkat kedua di raih oleh Yogi Indra Suherman siswa dari kelas 6 III, putera dari bapak Ali Suherman, M.Pd. peringkat ketiga di raih oleh Clara Nurmala Cahyani dari kelas 6 IV, puteri dari bapak Dr. Hj. Sonny Cahyono. Yang mendapat peringkat pertama tahun ini adalah…………Nidha Anggi Utami dari kelas 6 II, putera dari Alm. Bapak Joko Sunyoto. Bapak kepala sekolah diharapkan untuk bersedia memberikan penghargaan sekaligus kenang-kenangan kepada para siswa berprestasi.”
“prok..prok..prok..”,suara tepuk tangan penonton riuh saat melihat kepala sekolah memberikan penghargaan dan kenang-kenangan kepada para siswa berprestasi.
Ibu Anggi menangis di atas panggung karena terharu atas apa yang telah di raih Anggi, anak semata wayangnya. Anggipun bangga. Ia telah benar-benar tak mensia-siakan kesempatan yang selalu terbuka lebar untuknya. Segudang prestasi telah Anggi raih. Selepas lulus dari sekolah Dasar, lagi-lagi Anggi mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya. Ia merasa sangat beruntung. Tuhan sangat menyayanginya dan selalu memberikan jalan baginya, sehingga banyak orang di sekitarnya yang menyayanginya dan peduli dengannya.
Sejak lama Anggi selalu bermimpi saat dewasa kelak ia ingin menjadi seorang pengacara yang selalu membela yang lemah. Ia sering membaca dari koran yang ia temukan, bahwa banyak orang kaya yang menindas orang miskin terutama pada masalah hukum. Anggi merasa miris. Kenapa sampai sekarang pemerintah belum mampu menegakkan keadilan..? banyak aparat yang gila harta dan tak peduli dengan hak asasi manusia. Namun tak sedikit juga yang benar-benar adil dan jujur. Namun Anggi hanya ingin meluruskan kawat lurus yang bengkok di tengahnya agar dapat lurus sempurna. Tapi, cara sesungguhnya tak semudah meluruskan seuntai kawat kecil. Itu perlu perjuangan yang tak mudah. Bagi para orang kaya, hukum bisa di beli. Dan bagi orang miskin, mereka tak berdaya dalam menghadapi hukum. Mereka bahkan di pandang sebelah mata oleh aparat penegak hukum itu sendiri. Seperti yang pernah Anggi baca, seorang pencuri kapas di penjara selama 1 th 6 bulan. Sedangkan para tikus berdasi di biarkan melenggang bebas,keluar masuk sel dengan bebas, bahkan sempat berlibur. Tak adil memang. Tapi itulah cermin hukum yang ada di Negara ini. Negara yang menyebut dirinya sebagai Negara hukum. Anggi telah bertekat, ia benar-benar ingin menjadi seorang pengacara yang hanya membela yang tertindas.
Masa-masa SMP ia lewati layaknya anak usia remaja lainnya. Bedanya, Anggi masih saja memulung bersama ibunya sepulang sekolah, dan mengantarkan koran saat berangkat ke sekolah dengan sepeda bekas pemberian seseorang yang tinggal di perumahan elite di dekat tempat tinggalnya. Ia mempunyai seorang sahabat, Angga namanya. Kehidupan Angga berbeda 180 derajat di banding Anggi. Angga adalah seorang anak orang kaya yang selalu terpenuhi segala kebutuhannya. Namun demikian tak lantas membuat Angga menjadi seorang yang sombong dan manja. Menurut Angga, dia bukan orang kaya. Tapi orang tuanyalah yang mempunnyai harta. Bukan dia. Angga tak pernah menmbanggakan ataupun menyombongkan harta orang tuanya. Itulah sebabnya, Anggi tak canggung bersahabat dengan Angga. Anggi dan Angga adalah sepasang sahabat yang mempunyai prinsip dan tujuan hidup yang sama, yaitu menegakkan keadilan di Negara ini. Memang jarang ada anak SMP yang memikirkan hal seperti itu.
3 tahun bersekolah di SMP yang sama dan menjadi sahabat yang baik dan tak terpisahkan. Saat pengumuman kelulusan lagi-lagi Anggi menjadi juara umum. Menakjubkan. Sedangkan Angga, sahabatnya mendapatkan juara 3. Mereka memang benar-benar sahabat yang kompak dalam hal apapun. Termasuk dalam urusan prestasi. Namun setelah lulus, mereka harus berpisah karena Angga harus menuruti keinginan orang tuanya untuk bersekolah di sebuah sekolah swasta yang di pilihkan orang tuanya. Sedangkan Anggi, ia tetap melanjutkan sekolah di sekolah negeri yang tak memerlukan biaya untuknya karena beasiswa dari pemerintah telah menanti. Namun sebelum mereka berpisah, mereka telah mengikrarkan sebuah janji bahwa mereka akan sama-sama menegakkan keadilan di Negara ini. Cita-cita yang mulia memang.
Anggi melewati masa-masa SMA masih dengan bekerja keras. Kini ibunya mulai sakit-sakitan. Anggipun kini menjadi tulang punggung keluarganya. Ia tak lagi memulung. Tapi, kini ia menjadi seorang guru les di salah satu tempat bimbel ternama di kotanya. Honornya lumayan, cukup untuk ia dan ibunya makan sehari-hari. Namun untuk biaya berobat ibunya, ia tak mempunyai jalan lain selain berhutang kesana-kemari kepada para tetangga yang juga bukan orang yang berada. Berat memang. Apapun rela dilakukannya demi ibunya. Apapun masalah yang menimpanya, sosok Anggi selalu saja tegar dan bisa menyelesaikannya. Mungkin itu karena ia telah terbiasa hidup prihatin sejak kecil. Saat duduk di kelas 3 SMA, tepatnya 1 minggu sebelum ujian nasional  Anggi mengalami sebuah masalah. Seseorang ingin membeli tanah yang ditnggali Anggi, ibunya, dan para tetangga yang lain dengan harga yang murah dan dengan cara pemaksaan melalui terror-teror yang cukup meresahkan. Seseorang meletakkan kepala tikus yang telah di banting hancur dan juga sepucuk surat yang berisi ancaman di dalam kresek hitam di masing-masing pintu rumah. Orangitu adalah orang suruhan Pak Yudha, orang yang bukan berasal dari kota ini. Beberapa gentar dan takut hingga berencana untuk merelakan tanahnya di beli dengan harga murah dan terusir entah kemana. Tak ada yang tau tujuan orang itu memaksa membeli tanah-tanah warga tersebut.
Anggi tak terima dengan perlakuan orang tak bertanggung jawab tersebut. Ia iba kepada ibunya yang sedang sakit-sakitan, dimana lagi mereka harus tinggal apabila terusir dari sini.  Ia tak gentar dengan ancaman orang yang merupakan suruhan dari Pak Yudha yang hendak mengambil alih tanah ini. Anggi menanggapinya dengan senyum yang sangat getir dirasa apabila sang pemaksa melihatnya.
“haah..dipikir Anggi takut sama ancaman kayak gitu..!! liat saja.. gak bakal ada seorangpun yang terusir dari sini.. negaraku Negara hukum.. negarku menjamin sebuah keadilan untuk rakyatnya..”, kata Anggi optimis.
Tak mau mengulur waktu, Anggipun mencoba berbicara para ketua RT tempatnnya tinggalnya untuk mengumpulkan warganya di balai warga siang ini juga untuk menyusun sebuah rencana bersama.
***
“nah.. sekarang semua warga telah berkumpul.. saya ingin bertanya, apakah di antara kalian ada yang telah menanda tangani surat penjualan tanah itu…?”, tanya Anggi. Semua warga saling menoleh satu sama lain. Sepertinya tak ada di antara mereka yang telah menanda tanganinya.
“tidak ada..?”, masih tak ada jawaban. Anggi mengambil keksimpulan bahwa belum seorangpun yang menanda tanganinya. “bagus.. saya mengumpulkan anda semua disini untuk meminta persetujuan untuk memperkarakan kasus ini di pengadilan.. setuju…?”, Anggi meminta persetujuan. Warga tetap diam. Tak ada suara lantang yang terdengar. Hanya bisaik-bisik gemuruh yang terdengar. Sedetik..dua detik…tiga detik..
“alaah.. urusan sama polisi, sama pengadilan bikin runyam..”, salah seorang warga menyampaikan pendapat.
“begini yaa.. biarpun saya masih anak SMA, selama bersekolah saya mendapat pengetahuan tentang hukum yang tidak sedikit. Hukum akan memberikan perlindungan pada yang benar. Kita tunjukkan saja bukti ancaman orang tak bertanggung jawab itu. Apa anda semua rela kalau tanah kelahiran kita ini di rampas orang tanpa alasan dan tujuan yang jelas…? Yang lebih tidak baik adalah caranya. Orang itu melanggar hak asasi manusia.dia memaksa kita menjual tanah dengan harga yang murah. Apa lagi disertai dengan ancaman seperti ini. Apa anda semua bisa terima…? Kalau saya tidak akan pernah tinggal diam.. ”, jelas Anggi tegas. Semua warga terdiam mendengarkan penjelasam Anggi. Maklum, mereka semua tak sampai mendapatkan pendidikan seperti Anggi. Anggi mempunyai modal otak, tekat, dan keberuntungan untuk mencapai semua ini. Rata-rata dari mereka bahkan putus sekolah karena kemiskinan. Kini tak ada yang mengelak. Seirng berjalannya waktu, hari mulai sore dan para warga harus melanjutkan aktifitasnya. Anggi menyudahi pertemuan tersebut.
***
Pagi ini Anggi sengaja meminta ijin pada sekolahnya untuk tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Terpaksa ia berbohong karena ia tak ingin seseorang tau masalahnya sekarang. Pada pukul 9 ia akan pergi bersama ketua RT dan dua orang warga untuk melaporkan kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh Pak Yudha dan anak buahnya. Di kantor polisi Anggi menjelaskan secara rinci apa saja yang telah diperbuat oleh Pak Yudha dan anak buahnya dengan menyertakan bukti-bukti yang dirasa cukup kuat. Polisipun menanggapinya dengan baik dan akan segera menangani masalah ini sebelum menjadi masalah yang lebih besar. Anggi dan para wargapun menyerahkan masalah ini pada polisi.
Tak lama setelah laporan tersebut, Pak Yudha dan beberapa anak buahnyapun diringkus oleh polisi. Kini Anggi bisa bernapas lega karena biang keresahan masyarakat telah ditangkap. Anggipun bisa belajar dengan tenang untuk menghadapi ujian nasional yang 3 hari lagi akan dimulai.
Setelah ujian berakhir, Anggi masih harus menjadi saksi di persidangan. Dengan lantang Anggi menjelaskan semuanya, tanpa suatu kebohongan apapun. Pak Yudha dan anak buahnyapun tak bisa mengelak karena bukti telah ditangan. Anggi pemenangnya. Sesabit senyum merekah indah di bibirnya. Semua warga memujinya dan menyandangkan predikat pahlawan pada Anggi. Ibu Anggi yang saat itu juga menyaksikan persidanngan, tersenyum bahagia. Ia bangga mempunyai seorang putri yang berani membela yang lemah, tanpa gentar dengan ancaman-ancaman yang ada.
***
Untuk mengisi waktu saat menunggu hari penentuan kelulusan tiba, Anggi tak mensia-siakan kesempatan untuk mengikuti tes beasiswa ke luar negeri. Ia benar-benar mendewakan waktu dan kesempatan yang mungkin tak datang 2 kali.
Hari pengumuman kelulusan tiba. Anggi, bersama ibunya yang duduk di atas kursi roda pemberian seorang dermawanpun menunggu surat pengumuman kelulusan yang dikirim ke rumah masing-masing. Kebahagiaan muncul setelah Ibu Anggi membuka surat itu, yang menyatakan Anggi berhasil lulus dengan usaha kerasnya sendiri. Ibunya menangis haru disana. Begitu pula Anggi. Anggi selalu bisa membuat ibunya merasa sebagai orang tua yang berhasil mendidik anaknya dengan kerja keras dan ketekunan. Bukan dengan harta. Bahkan ibunya nyaris tak mengeluarkan biaya untuk membayar komite sekolahnya selama ini. Kebahagiaan mereka tak hanya di situ. Anggi menjadi salah satu dari 3 orang yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Sungguh, Anggi memang tidak terlahir di keluarga yang beruntung. Tapi ia terlahir disertai dengan keberuntungan.
 “selamat nak… sejauh ini kamu berhasil.. jangan sia-siakan kesempatan itu ya.. jadilah apa yang selama ini kamu inginkan.., menjadi seorang pengacara, penegak keadilan yang hebat dan jujur..”, ibunya tersenyum dam menatap Anggi.
Anggi membalas tatapan ibunya dengan prihatin. Ia tak rela meninggalkan ibunya yang sakit-sakitan sendirian di gubuk tua itu. Sedangkan apabila Anggi berangkat ke luar negeri, ia akan mendapatkan fasilitas hidup yang layak. Anggi merasa hal itu sangat tidak adil.
“Anggi pengen tetap di sini saja sama ibu..”, Anggi tersenyum. “Anggi masih bisa ikut tes beasiswa untuk universitas negeri kok bu.. Anggi gak bisa tinggalin ibu sendirian di sini..”
Ibunya tak kuasa menahan tangis haru. Ibunya hanya diam dan tersenyum dalam tangis.
***
Hari ini Anggi mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa di slalah satu perguruan tinggi ternama di kota tetangga. Ia bersaing dengan 80 peserta lain untuk memperebutkan 2 beasiswa yang akan di berikan. Anggi sempat pesimis. Tapi ibunya selalu memberikan dukungan pada Anggi.
Lagi-lagi Anggi beruntung. Sebenarnya bukan hanya modal keberuntungan yang ia miliki, tapi juga otak yang cerdas. Anggi berhasil menjadi salah satu dari 2 orang yang terpilih. Dan ternyata, oran laing yang terpilih adalah sahabat Anggi sejak SMP. yaa.. ialah Angga. Mereka akan belajar di kampus yang sama dan mengambil jurusan Hukum. Mereka bersama-sama menepeti janji mereka untuk menjadi pembela kebenaran dan penegak keadilan.
Hingga akhirnya mereka menjadi apa yang selama ini mereka impikan. Yaa..menjadi seorang pengacara hebat yang hanya ingin mencarikan keadilan untuk orang yang lemah, bukan untuk uang.
Kini, dari hasil kerjanya, Anggi dapat memberikan tempat tinggal yang layak untuk ibunya, membiayai pengobatan ibunya, dan memberangkatkan ibunya Haji. Sungguh, Anggi benar-benar berhasil menjadi anak yang berbakti pada orang tua, peduli dengan cermin keadilan, dan memiliki banyak prestasi.
Saat telah berusia 24 tahun, Angga meminangnya sebagai isteri. Hmm.. sungguh lengkap kebahagiaan Anggi. Dunia ini memang sangat adil. Sejak kecil Anggi hidup dalam keprihatinan, saat dewasa hidup dalam kepedulian.


***


“Anggi..pulang yuk..udah sore nih..”, suara lembut membangunkan Anggi yang tertidur pulas di bawah pohon beringin.
Anggi membuka matanya. Dilihatnya, ibunya berada di depannya. Anggi tersenyum. Senyum anak 10 tahun yang sangat manis.
“ohh..ibu.. udah sore ya bu..? ayo pulang.. J ”, Anggi berdiri,kemudian menatap langit sore yang mulai kemerahan masih dengan senyum manisnya.
“aku akan meraihnya..aku akan mewujudkan mimpi indahku… J”,kata Anggi. Kata itu terucap merdu dari bibir polos anak 10 tahun yang mempunyai cita mulia.
Kemudian ia meraih dan memanggul karung yang berisi barang rongsok itu dan membawanya pulang. Anggi dan ibunya pulang ke gubuknya dengan bergandengan tangan seperti biasa.

#END#



->aku ingat kata Yusuf “HIDUP BUKAN CERPEN”. Memang. Tapi jika boleh aku berharap, aku ingin hidupku kelak bisa sama seperti yang tokoh “Anggi” dapatkan. Menjadi seorang pengacara yang hebat, bukan bertujuan untuk mencari harta duniawi, melainkan aku ingin berguna untuk siapa saja yang membutuhkan bantuan hukum.
Sekian..Wassalam..

Senin, 10 Januari 2011

DOA TUKANG BECAK (IV)

: Tuhan, kata orang jumlah umat Islam di dunia sekarang 2,2 miliar. Jumlah dewasanya 1,8 miliar. Benarkah semuanya Kauwajibkan pergi haji? Bagaimana mungkin, bukankah Makkah cuma mampu menampung empat juta jamaah per tahun? Panjang sekali antreannya, kapan giliranku dg penghasilan Rp 50 ribu per hari? Bisakah becakku ini kujadikan pengganti haji toh aku juga berjihad buat keluarga dengannya?

DOA TUKANG BECAK (III)

: Apa kabar Tuhanku sayang? Dengan segala keperkasaan-Mu, dulu hampir Kautampakkan wajah-Mu yg teduh di Gunung Tsursina. Jika Musa meminta, kini aku pun memohon tampilkan wajah-Mu di puncak Pangrango. Banyak orang gila membangun villa di hutan lindung dan Bopunjur, tanpa peduli sewaktu2 banjir bandang bisa menghantam Jakarta. Aku cm tukang becak, tp intuisiku melampaui Gurun Sahara .

DOA TUKANG BECAK (II):

DOA TUKANG BECAK (II): Ya Tuhan, pelanggan tetapku Ibnu Arabi. Dia sering mengajariku mengenali diriku supaya benar2 kukenal Diri-Mu. Tapi, pelangganku lainya adalah Robinhood. Dia rajin membangun tempat ibadah dari merampok. Rabiah Adawiyah juga sering naik becakku. Dia bekas pelacur, tapi sekarang rajin beribadah tanpa berharap surga. Tuhan, sekali2 naiklah becakku. Jangan lupa ajak konglomerat sialan itu!

DOA TUKANG BECAK (I)

 Trm ksh Tuhan, dari pagi smp sore Kauberi aku Rp 50.000 tuk keluargaku. Kawanku bayar Rp 250.000 tuk tiga gelas kopi di hotel mewah. Izinkan aku kaya raya, sumpah tdk kugunakan tuk mengebor kawah. Jadikan aku artis, sumpah aku cuma ingin nyanyi, tdk berganti2 bidadari. Jadikan aku presiden, sumpah aku tdk nyambi rekaman. Apa pun kulakukan asal Kaukabulkan doaku, jika perlu silakan naik becakku ..

Kenali dirimu, kau 'kan kenal Tuhanmu!

Kenali dirimu, kau 'kan kenal Tuhanmu!

oleh Helmi Hidayat pada 21 Desember 2010 jam 1:23
Sufi besar Jalaluddin Rumi pernah berkata, ''man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu'' (barangsiapa mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhannya). Manusia adalah wakil (khalifah) Allah di muka bumi. Mestinya mereka malu sebagai wakil tidak mengenal Dzat yang mereka wakili. Teruslah mendekat kepada-Nya, telaah seluruh alam cipataan-Nya, dari situ kita akan mengetahui lebih jauh siapakan Allah, Tuhan kita -- Tuhan Ibrahim, Tuhan Musa, Tuhan Isa, juga Tuhan yang selalu diseru oleh Muhammad SAW, sang lelaki paripurna! 

Wujud Tuhan : Dirasa, bukan Dipikirkan.

Kebanyakan orang mengetahui Tuhan melalui berita tentang Tawhid yang dibawa dari Nabi Muhammad s.a.w. Mereka membenarkannya dengan hati, mengamalkannya dengan tubuh, tetapi mengotori diri mereka dengan dosa dan maksiat. Maka hiduplah mereka di dunia dalam kebodohan dan kekurangan. Mereka berada dalam bahaya besar kecuali yang disayangi oleh Yang Pengasih dari segala yang mengasihi.
Lebih tinggi dari itu, ada sekelompok manusia yang mengenal Tuhan dengan pembuktian. Mereka adalah ahli pikir, nalar, dan akal. Mereka meyakini tawhid berdasarkan dalil, ayat-ayat, dan tanda-tanda ketuhanan. Mereka mengetahui yang gaib atas dasar yang konkret. Mereka meyakini kebenaran dalil. Mereka berada pada jalan yang benar, hanya saja, mereka terhalang tirai dari Allah Ta'ala dengan perhatian mereka kepada dalil-dalil mereka.
Ahli ma'rifat khusus mengetahuinya dengan keyakinan yang paling utama. Mereka tenteram dalam pengetahuan mereka. Tidak merisaukan mereka dalil. Tidak memalingkan mereka sebab. Dalil mereka Rasulullah s.a.w. Iman mereka al-Qur'an. Cahaya mereka menerangi di hadapan mereka.
Barangsiapa yang mengenal Allah Ta'ala berdasarkan berita maka ia seperti saudara-saudara Yusuf ketika mengetahui rupanya tapi tidak menyadarinya, sehingga mereka dipermalukan di hadapannya, ketika mereka berkata: jika ia mencuri maka sesunggulmya saudaranya telah mencuri pula sebelum itu (Q., s. Yusuf/12:77).
Barangsiapa yang mengenal Tuhan dengan dalil maka ia seperti Ya'qub a.s. ketika tahu bahwa Yusuf masih hidup, sehingga bertambah-tambah tangisan dan penderitaannya, sehingga ditanggungnya berbagai bala sampai putih matanya karena kesedihan, karena tahu bahwa Yusuf masih hidup dan karena rindu untuk berjumpa dengannya. Ia berkata: Pergilah selidiki keadaan Yusuf, aku sudah mencium bau Yusuf. Karena ucapannya itu, orang-orang yang tidak tahu berkata; Demi Allah sesungguhnya engkau dalam kesesatanmu yang terdahulu (Q.,s.Yusuf/12:59). Mereka berkata: Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-arang yang celaka (Q., s. Yusuf/12:85).
Perumpamaan orang yang mengenal Allah melalui hidayah-Nya  adalah seperti Bunyamin yang diambil Yusuf untuk dirinya. Yusuf berkata: "Saudaraku, apakah kamu ingin menyaksikanku atau kembali kepada bapakmu?" Ia berkata: "Aku ingin menyaksikanmu". Yusuf berkata: "Jika kamu menginginkan aku, bersabarlah atas ujianku". Ia berkata: "Aku siap, karena engkau akan kupikul segala bencana asalkan aku tinggal bersamamu dan tidak berpisah denganmu". Kemudian Yusuf mengeluarkan gandum dari kantong Bunyamin dan menuduh saudaranya mencuri. Seluruh penduduk kola mengecam dan mengejek Bunyamin. Saudara-saudaranya mempersalahkannya. Tetapi ia sendiri bergembira, tertawa dalam kesendiriannya. Ia tidak takut pada ejekan orang-orang yang mengejek. Inilah perumpamaan ahli yaqin dalam pengetahuan mereka tentang Tuhan.


Kasih..

Kasih..  
Tahukah engkau..?
Sering kali aku merindukanmu..
Ingin rasanya walau sedetik jumpa...

Kasih..
Meski jauh kita terpisah..
Tak pernah sekalipun aku merasa jauh darimu..
Karena engkau dan aku adalah kita..

Kasih..
Tiap malam ku pandang langit..
Disana ada rembulan..
Iya rembulan..rembulan kita..

Meski terkadang rembulan malu-malu..
Bersembunyi di balik awan hitam yang dingin..
Aku tahu dia masih di sana..
Tersenyum melihat kita yang selalu merindu.. 

Kasih..
Jangan resah kita terpisah..
Masih ada terang rembulan yang sama di atas kita..
Lekukan rembulan itu yang membuat kita merasa dekat..

Kasih..
Taukah engkau..?  
Di tempat ini aku selalu tersenyum..
Senyuman manisku yang kutujukan hanya untukmu..

Kasih..
Jangan pernah lupakan aku, kita..
Dan kenangan indah akhir dua ribu sepuluh..
Hingga kita bersama di alam lain..

Minggu, 09 Januari 2011

..::: Antara Orang Cerdik dan Orang Lemah :::..

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ

نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَاْلعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا

وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ

“Dari Syaddad bin Aus, Nabi SAW bersabda, “Orang yang cerdik adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan menyiapkan diri untuk hari akhirat. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berandai-andai kepada Allah.” [Hadis Hasan riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Hendaknya kita bercermin kepada hadis di atas, menjadi orang yang cerdik, pandai mengelola kepribadian diri dengan mengendalikan hawa nafsu untuk mendapatkan kualitas kemuliaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Nabi SAW mendeskripsikan bahwa setiap muslim hendaknya bijaksana, hawa nafsu yang ada pada dirinya merupakan ujian dari Allah SWT yang harus digunakan untuk kebaikan, jangan diperturutkan untuk sesuatu yang dilarang Allah SWT, jangan menjadi budak syetan yang senantiasa ingin menjerumuskan manusia muslim sehingga menjadi temannya di neraka.

Kecerdikan itu tercermin pada evaluasi yang senantiasa dilakukan seorang muslim, apakah langkah kehidupannya sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah ataukah bertentangan dengan kehendakNya? Sayidina Umar bin Khattab pernah mengatakan, “Evaluasilah dirimu sebelum kamu dievaluasi [di hari akhirat]”.

Orang yang cerdik senantiasa menggunakan kesempatan dengan semua hal yang bermanfaat, tidak ada kesia-siaan yang menghiasi hari-harinya. Tidak menunda-nunda kesempatan kebaikan dengan berandai-andai seraya mengatakan, “Suatu hari nanti saya akan berbuat baik” atau “Nanti ketika usia tua saya mau bertaubat”.

Seperti dijelaskan oleh Nabi SAW, berandaiandai adalah ciri orang yang lemah, lemah keimanannya, selalu memperturutkan hawa nafsu dengan menahan kebaikan dan melanggar larangan.

Allah SWT menyerukan kepada kita untuk mempersiapkan hari esok, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Hasyr: 18

Sabtu, 08 Januari 2011

Loket ke neraka penuh sesak...
Banyak manusia antri...
Rebut rebutan, cakar-cakaran...
takut gak kebagian kursi...

Tiket ke neraka mahal...
Harus merogoh kantong berjuta-juta...
Untuk dapat ikut berjalan kesana...

Maksiat itu mahal...
Judi itu mahal...
Zina itu mahal...
Korupsi itu mahal...
Dusta itu mahal...
Tetap orang-orang berbondong menuju neraka...

Jalan ke syurga sunyi...
Sepiii...
Jalannya lebar, mulus dan bersih...
Tiketnya murah, tak perlu keluar uang banyak...
Loketnya bersih, ada AC, pelayannya ramah...

Tapi mengapa amat sedikit yang antri di loket ini???
Puasa itu murah...
Sholat itu murah...
Sedekah itu murah...
Senyum itu murah...
Jujur itu murah...

Ternyata Nafsu telah memutar balik semua tatapan...
Yang buruk terlihat indah...
Yang baik terlihat sukar...

Ditempat ini aku baru sadar...
Bahwa jalan ke syurga sepi...
Jalan ke neraka ramai...